Hello readers~ Authorae (?) is back he -_-V Gue berharap ini 3 shots bener bener 3 shots deh-_- kalo nambah yah... Semoga cuma nambah satu part gitu-_- Anyway I'll try my best hehehehe. Most of all, ENJOY ^^
Cast: Hwang Raekyo dan lain lain~
[WARNING] Raekyo is -still- not me btw hehe~
Hwang Raekyo membuka mata kecilnya. Meski ia ingin untuk
tetap dalam posisi yang sama, dunia berkata lain. Meski hari ini hari Sabtu,
ibunya berkata lain. Dan meskipun hari ini libur musim panas, kakaknya berkata
lain. Pintu kamarnya digedor-gedor yang beradu dengan suara riuh dari
mulut-mulut yang berbicara. Dengan mencoba mengabaikan, Raekyo menarik
selimutnya dan memejamkan kembali matanya. Namun, semua itu sia-sia. Usahanya
sama saja seperti tidur di atas kasur paku. Mus-ta-hil.
“HWANG RAEKYO! AYO BANGUN! EOMMA HARUS SEGERA KE
SUPERMARKET! AYO CEPAT!” Seru Nyonya Hwang gentar.
“RAEKYO AH AYO BANGUN!!! KAU INGAT AKAN MENEMANIKU KE TOKO
BUKU SETELAH MENGANTAR EOMMA KAN? BANGUN HWANG RAEKYOOOO!” Byunghun menggedor
pintu kamar adiknya tidak sabaran.
“Eh…Ah….. ASTAGA! CUKUP!!!! AKU BANGUN SEKARANG!” Teriak
Raekyo kesal lalu membuka pintu kamarnya dengan malas, menunjukkan kepada Ibu
dan Kakaknya bahwa matanya sudah terbuka dan ia sudah sadar dari alam bawah
sadarnya.
“See? Aku udah bangun.” Raekyo menyandarkan tubuhnya di
ambang pintu dan diam, mencoba mengumpulkan sisa nyawa yang entah kemana.
“Mandi sana. Cepet ya, Eomma tunggu di luar.” Ujar Nyonya
Hwang lalu beranjak ke ruang TV.
“Noh, oh iya terus jangan lupa jam setengah 12 temenin gue
ke toko buku…..” Kata Byunghun terputus.
“Dan ke toko olahraga?” Raekyo melanjutkan ucapan kakaknya
setelah menguap hebat.
“Pinter lo! Ya udah, mandi sana. Biar pulangnya cepet, terus
ke toko bukunya juga cepet deh!” Ujar Byunghun riang disambut cibiran Raekyo.
“Berisik lo, nyet!” Maki Raekyo kesal, tangannya berusaha
menutup pintu kamarnya namun ditahan oleh sang kakak.
“Monyet monyet gini, gue kakak lo juga kan?” Kata Byunghun,
membuat Raekyo mendorong keras pintu kamar dan membantingnya. Dibalik pintu, ia
hanya meringis kesal. Sementara, kakaknya berlalu sambil terbahak.
***
“Kamu suka yang mana?”
Nyonya Hwang menunjukkan dua botol sabun kepada Raekyo.
Raekyo menunjuknya dengan malas, lalu masih dengan dagu yang bertopang pada
tangan yang diletakkan di atas dorongan troli, ia mendorong troli yang sudah
setengah terisi itu dengan malas-malasan.
“Eomma… Kenapa sih harus mengajakku kesini? Kan Eomma bisa
sendiri…” Tanya Raekyo merajuk.
“Kamu itu cewek, nanti kalau kamu hidup mandiri, harus bisa
memilih barang-barang yang kamu butuhkan dengan baik. Jangan jeruk busuk kamu
ambil, susu basi kamu ambil, ikan yang udah gak segarpun jangan kamu ambil.
Kamu harus jeli, karena itu kamu Eomma ajak kesini.” Jelas Nyonya Hwang membuat
Raekyo melongo dengan tatapan Mom-please-alasan-itu-bener-bener-gak-masuk-akal.
“Ya tapi kan gak harus sekaraaaaaang….”
“Hwang Raekyo. Umur kamu ini berapa? 18 kan? Tahun ini kamu
kuliah, dan otomatis sebentar lagi kamu bakal hidup mandiri. Jadi, kamu harus
bisa ngurus diri kamu sendiri dengan benar.” Tegas Nyonya Hwang membuat bibir
Raekyo mengerucut.
“Raekyo, tolong ambil Fizzle buat kakakmu di rak sana.”
Nyonya Hwang menunjuk rak yang dimaksud. Dengan berusaha semangat, Raekyo
mengangguk dan berjalan menuju rak yang dimaksud.
“Sial!” Umpat Raekyo setelah melihat tempat makanan ringan
kesukaan Byunghun itu ada di rak keenam dari bawah. Dengan malas, ia
menjinjitkan kakinya lalu meraih dua bungkus Fizzle. Sayangnya, kemasan makanan
yang berbentuk balok itu jatuh.
“Maumu apa sih, Fizzle sialan?” Raekyo jongkok untuk
mengambil 4 bungkus Fizzle yang jatuh. Dan, ketika ia mengambil Fizzle keempat,
sepasang sepatu menghampirinya. Raekyo tak ingin mengingatnya, walaupun ia
ingat. Sepatu itu. Sepatu itu pernah berada di tangannya. Dengan mata nanar,
wajahnya mendongak ke atas. Memastikan pemilik sepatu itu.
***
“Tighten your seatbelt. We’re about to arrive in Incheon
International Airport, South Korea.”
Pengumuman dari awak pesawat itu membuat Lee Hoya yang
terlelap menegakkan sandaran kursinya dan mengenakan kembali sabuk pengamannya.
Ia menyapu pandangannya keluar jendela dan tersenyum penuh arti. Dihembuskannya
napas dan membatin, I’m breathing
Korean’s oxygen again!
Setelah pesawat mendarat dengan sukses, Hoya mengambil semua
barang-barangnya dari kabin pesawat dan berjalan menuju pintu pesawat. Wajahnya
berseri-seri ketika akhirnya menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Namun
selain itu, ia kembali teringat dengan tekadnya kemarin di JFK Airport. Dengan
penuh semangat, ia menyusuri lantai-lantai bandara Incheon. Mencoba menemukan
sepotong puzzle yang telah lenyap dari hidupnya.
***
“Semuanya 700 won.”
Hoya meraih satu lembar uang dengan tulisan nominal 1000
lalu menyerahkannya kepada kasir itu.
“Kembaliannya 300 won. Kamsahamnida.” Kata petugas kasir
setelah menyerahkan 3 buah uang 100 won pada Hoya. Hoya menganggukan kepalanya
lalu mengambil minuman kaleng yang ia beli.
Hoya melangkahkan kakinya keluar dari minimarket sambil
meneguk minuman kaleng itu. Matanya menangkap bangunan besar di hadapannya.
“Syupeomaket.” Hoya membaca tulisan hangul di papan besar
itu terbata-bata. Namun ia mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba, ia teringat
sesuatu. Ia belum menelan makanan apapun sejak tiba di Korea. Perutnya terasa
menggebu-gebu. Hoya mengedikkan bahunya lalu berjalan masuk menuju bangunan
besar itu.
***
SNACKS
Mata Hoya tertarik pada papan dengan tulisan itu. Tanpa
menunggu, ia melangkahkan kakinya menuju rak dengan tulisan itu di atasnya.
Dahinya mengernyit begitu menemukan bungkus makanan dengan tulisan hangul yang
sudah ia lupa beberapa hurufnya. Hoya berusaha keras membacanya, tapi nihil.
Mata Hoya tertarik pada tulisan dibelakang kemasan makanan
ringan yang sedang ia baca. FIZZLE. Oh, dulu saat ia masih SMP ia sangat
menyukai makanan itu. Ia mencoba meraihnya, tapi gagal karena rak itu dibatasi
oleh kaca. Hoya pun berjalan menuju rak dibalik rak tempat ia berdiri tadi.
Matanya tertuju pada lantai supermarket yang dijatuhi dua bungkus makanan kesukaannya
itu. Dengan heran, ia menyusuri arah kotak FIZZLE itu.
Dan betapa terkejutnya dia. Punggung itu, tangan itu, kaki
itu. Ia mengenali semuanya. Meskipun rambut sebahu itu kini telah menutupi ¾
punggung itu, Hoya tetap mengenalinya. Perlahan, ia mendekati sosok itu. Sosok
yang telah mewarnai hidupnya 3 tahun sebelum ia pindah ke Amerika.
Dengan wajah yang masih menunduk, ia berjalan pelan. Sampai
akhirnya, wajah itu melihat ke arahnya. Dan pada saat itu, kedua mata yang
sempat terpisahkan jarak itu, kembali
bertemu.
Tobecontinue~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar